Jumat, 21 Februari 2014

Pemaknaan Simbol-simbol Komunikasi Interpersonal Oleh Guru Anak Tunarungu dalam Proses Belajar Mengajar di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat



Sarah Nurtyasrini
210120130013
Jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Abstrack
The results of this research are symbols by teacher of children with hearing impairment and the sign language wihich explains the meaning the meaning of the language which explain the meaning of children with hearing impairment more easily comprehended the message for the purpose in communicating. The learning process between teacher and children with hearing impairment require them to exchange meaning with each other when interpersonal communication occurred by face to face. Non verbal communication helped children with hearing the symbol that they have got.
The conclucion of this research is that the verbal or nonverbal symbols that they received, has helped them to understand every message that they’ve got in teaching and learning process. In this research, writer suggested that in daily school, children must be trained to speak and to gain new vocabulary from their theacher. Therefore, they can be interact with other people normally and their envioronment around them.




Latar Belakang Masalah
Nabila dan Rina adalah murid tunarungu yang ada di SLB-B Pembina tingkat Propinsi Jawa Barat di  Kabupaten Sumedang. Nabila dan Rina saat ini berusia 10 tahun dan masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar (SD). Pada perkembangan anak normal seharusnya mereka saat ini sudah ada pada tingkat kelas empat Sekolah Dasar.
Meskipun mereka sama-sama penderita tunarungu namun mereka memiliki karakter yang berbeda. Nabila lebih tertutup terhadap lingkungannya. Nabila tidak dapat berkomunikasi baik dengan lingkungan sekitar. Dia cendrung lebih pemalu dibandingkan dengan Rina. Rina merupakan penderita tunarungu yang lebih percaya diri. Rina dapat dengan mudah bergaul dengan lingkungan sekitar. Selain itu juga Rina selalu ingin mengetahui dengan hal-hal baru yang ditemuinya pada lingkungan sekitarnya. Selain itu lingkungan keluarga Rina lebih bisa menerima keadaan Rina dan bisa membimbing dia. Hal ini sangat berbeda sekali dengan Nabila. Lingkungan keluarga Rina lebih tertutup dengan keadaan Rina. Sehingga ini yang menyebabkan Nabila lebih tertutup dibandingkan dengan Rina.
Pada awal proses belajar mengajar ketika Rina baru dimasukan ke SLB-B Pembina terdapat banyak kendala dalam berkomunnikasi terutama pada penggunaan bahasa dalam berkomunikasi antara Rina dengan guru pengajarnya di sekolah. Anak tunarungu mempunyai masalah dalam penggunaan kosakata bahasa Indonesia, dan anak tunarungu biasanya miskin perbendaharaan kata-kata. Seiring dengan proses belajar mengajar di Sekolah, saat ini Rina sudah mampu menggunakan mempunyai banyak pembendaharaan kata-kata yang bisa digunakan dalam berkomunikasi dengan lingkungan normal pada umumnya. Karena perkembangan psikologis Rina yang baik, maka Rina lebih bisa cepat berkembang.
Berbeda dengan Rina, Nabila memilik sifat lebih tertutup. Hal ini dikarenakan orang tua Nabila kurang bisa menerima kekurangan pendengaran yang diderita Nabila sejak kecil. Karena kekurangan yang dialami oleh Nabila, maka Nabila sering kali tidak ajak bergaul keluar rumah, dan dibiarkan untuk berman di dalam rumah saja tanpa diizinkan untuk bisa bermain diluar sehingga hal ini yang menyebabkan pribadi Nabila menjadi lebih tertutup dan tumbuh menjadi anak yang pemalu dan kurang percaya diri terhadap kekurangan yang dimilikinya.  Pada awalnya orang tua Nabila memang tidak bisa menerima kekurangan yang dialami oleh Nabila.
Ibu Nunung adalah guru Rina dan Nabila di sekolah. Ibu Nunung menerapkan pola asuh yang berbeda terhadap Rina dan Nabila. Namun, perlakuan yang diberikan sama. Pendekatan yang dilakukan oleh Ibu Nunung dalam proses belajar terhadap Rina dan Nabila berbeda, karena Rina dan Nabila memiliki karakter yang berbeda juga.
Pola asuh yang diberikan oleh guru pada anak tuna rungu pastinya akan berbeda dengan anak normal pada anak pada umumnya. Setiap guru akan membedakan cara berkomunikasi dan pola asuh terhadap anak tunarungu, karena secara psikologis dan emosi setiap individu anak tunarung berbeda. Hal ini juga yang membedakan pola asuh yang diberikan oleh guru, agar anak tunarungu bisa menerima penyerapan pelajaran dengan baik.
Penderita tuna rungu bisa berkomunikasi dengan cara dengan verbal dan non verbal. Isyarat merupakan salah satu cara berkomunikasi secara efektif dengan penderita tuna rungu. Ketika kita menggunakan bahasa dan juga isyarat untuk berkomunikasi dengan penderita tuna rungu bisa dengan mudah menangkap maksud dari pesan yang kita sampaikan. Penderita tuna rungu bisa dilatih secara perlahan agar bisa berkomunikasi secara baik dengan lingkungan sekitarnya. Isyarat merupakan salah satu pengganti bahasa lisan untuk berkomunikasi dengan anak tuna rungu. Pendidikan seperti anak normal pada umumnya juga harus diterima oleh anak penderita tuna rungu. Karena pada dasarnya anak penderita tuna rungu juga berhak mendapatkan pendidikan sekolah yang layak. Pendidikan yang diterima anak tuna rungu bertujuan agar mereka bisa berkomunikasi baik dengan lingkungan di sekitar mereka.
Guru sangat bertanggung jawab pada pendidikan bagi anak tunarungu di sekolah.  Bagaimana sang guru dapat memberikan penjelasan mengenai lingkungan sosial mereka dan mengerti bagaimana mereka harus bersosialisasi dengan baik. Guru adalah pendidik yang melahirkan anak-anak bangsa yang berprestasi. Pendidikan yang diterima anak tunarungu diharapkan bisa menjadikan anak tunarungu mengaktualisasikan diri mereka. Biasanya guru lebih sering menggunakan bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi dengan muridnya. Komunikasi nonverbal antara guru dan anak tuna rungu dalam proses belajar mengajar sangatlah menarik untuk diteliti. Bagi peneliti pola komunikasi yang terjadi antara guru dan anak tunarungu menjadi hal yang sangat menarik untuk di teliti.

Fokus Penelitian
Berdasarkan pada latar belakang yang dipaparkan diatas maka yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah “Bagaimana Pemaknaan simbol-simbol komunikasi interpersonal dalam proses belajar mengajar oleh guru anak tunarungu di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat?”

Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pada fokus penelitian diatas maka pertanyaan penelitiannya adalah :
1.     Bagaimana proses pengiriman pesan dalam berkomunikasi anak tunarungu dengan guru pada proses belajar mengajar di lingkungan SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat?
2.     Bagaimana isyarat-isyarat nonverbal dalam proses belajar mengajar anak tunarungu dengan guru pada proses belajar mengajar di lingkungan SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat?
3.     Bagaimana pertukaran makna anak tunarungu dengan guru pada proses belajar mengajar di lingkungan SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat?
4.     Bagaimana konstruksi pemaknaan simbol-simbol nonverbal dalam proses belajar anak tunarungu dengan guru pada proses belajar mengajar di lingkungan SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat?
5.     Gangguan komunikasi apa saja yang terjadi antar anak tunarungu dengan guru pada proses belajar mengajar di lingkungan SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1.     Untuk mengetahui proses pengiriman pesan dalm komunikasi anak tunarungu dengan guru dalam proses belajar mengajar di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat.
2.     Untuk mengetahui gangguan komunikasi apa saja yang terjadi antara anak  tunarungu dengan guru dalam proses belajar mengajar di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat.
3.     Untuk mengetahui isyarat-isyarat nonverbal dalam proses belajar mengajar anak tunarungu dengan guru di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat.
4.     Untuk mengetahui konstruksi pemaknaan simbol-simbol nonverbal dalam proses belajar mengajar anak tunarungu dengan guru di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat.
5.     Untuk mengetahui pertukaran makna anak tunarungu dengan guru dalam proses belajar mengajar di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat.





Manfaat Penelitian
Maanfaat Praktis

1.     Diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu kepada dunia komunikasi tentang pola komunikasi anak tugna rungu.
2.     Diharapkan dapat berguna bagi penelitian selanjutnya yang akan meneliti tentang komunikasi dengan anak tunarungu.

Maanfaat Teoritis

1.     Sebagai sumbangan pemikiran dan sumber informasi bagi penelitian  lainnya mengenai penelitan sejenis.
2.     Memberikan kontribusi bagi pengembangan penelitian di bidang ilmu komunikasi khususnya jurusan hubungan masyarakat mengenai penelitian kualitatif.






Landasan Teori
Teori Interakasi Simbolik
         Penelitian ini menggunakan teori interaksi simbolik. Teori interasksi simbolik membahas mengenai  interaksi antar umat manusia yang menggunakan simbol-simbol, yang didalamnya berisi tanda-tanda isyarat dan kata-kata.
Alasan pemilihan teori ini dalam penelitian ini adalah karena anak tunarungu menggunkanan bahasa isyarat dalam berkomunikasi mereka sehari-hari. Teori ini sangat mengedapankan tanda-tanda isyarat atau bahasa isyarat dalam berkomunikasi.
Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh oranglain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran,maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain. Anak tunarungu mengutarakan perasaan, dan pikirannya kepada orang lain melalui bahasa verbal dan nonverbal. Pemberian isyarat akan lebih mudah dipahami oleh anak tunarungu apabila kita menggunakannya dalam berkomunikasi dengan anak tunarungu.
Ada tiga premis dalam utama dalam teori interaksi simbolik, yang dikemukan oleh Herbert Blummer yaitu :
1.     Manusia bertindak berdasarkan makna-makna yang mereka tangkap dari suatu hal.
2.     Makna tersebut diperoleh dari interaksi dengan orang lain.
3.     Makna tersebut berkembang dan disempurnakan saat interaksi tersebut berlangsung.

Mead dan Charles Horton Cooley menmukan bahwa manusia berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat, dan kata-kata. Dengan kata lain, interkasionisme simbolik memokuskan diri pada hakekat interkasi, pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial, dan hubungan sosial.

Metodologi Penelitian
Metode Kualitatif
Fokus utama dalam penelitian bagaimana pemaknaan komunikasi interpersonal anak tunarungu dalam proses belajar di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat. Menurut hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di SLB-B Pembina Tingkat Provinsi di Sumedang, peneliti menndapatkan keunikasan tentang komunikasi interpersonal yang terbentuk pada saat guru menyampaikan pelajaran kepada anak tuna rungu. Komunikasi verbal dan komunikasi non verbal sangat berguna bagi anak tuna rungu. Komunikasi non verbal menjadi salah satu cara yang paling efektif dalam menyampaikan pesan kepada anak tuna rungu.
        Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Metode kualitatif merupakan suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodelogi yang menyelediki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada penelitian ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terperinci dari pandangan responden dan melakukan studi pada situasi yang alami. (Cresswel, 1998 :15).
Pendekatan Fenomenologi
Penelitian ini mengenai pemaknaan simbol-simbol komunikasi interpersonal anak tunarungu dalam proses belajar mengajar di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat dengan pendekatan fenomenologi karena peneliti berusaha menggambarkan fenomena pemaknaan simbol komunikasi interpersonal anak tunarungu dalam proses belajar mengajar. Fenomenlogi mampu menjelaskan dan mengungkapkan esensi dari pengalaman manusia. Fenomenologi adalah studi tentang pengetahuan yang berasal dari kesadaran manusia atau cara dimana orang-orang menjadi paham akan objek-objek dan peristiwa-peristiwa dengan mengalaminya sendiri (Little John, 1997:354). Dari pengertian tersebut pula, kita bisa memahami bahwa pemahaman sesuatu dihasilkan dari pengalaman.

Pembahasan
Kegiatan belajar mengajar anak tunarungu dengan guru tidak dapat kita pisahkan dari interasksi dan proses komunikasi. Anak tunarungu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat sebagai alat bantu mereka untuk bisa memaknai simbol bahasa verbal yang mereka terima dari lawan bicaranya. Proses komunikasi dalam belajar mengajar tidak dapat dipisahkan dari interasksi antara guru dengan anak tunarungu. Interaksi yang terjadi antara guru dan anak tunarungu adalah interaksi edukatif. Interaksi yang terjadi antara guru dan anak tunarungu pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik dan diadik, dimana terdapat proses saling mempengaruhi antara guru dan anak tunarungu begitu juga sebaliknya antara anak tunarungu dengan guru, mengandung maksud-maksud tertentu, yakni untuk mencapai pengertian bersama untuk mencapai tujuan dalam proses belajar mengajar yaitu belajar.
Terkadang interkasi antara guru dan anak tunarungu itu terjadi secara tidak sengaja. Sebagai contoh ketika jam istirahat ketika anak tunarungu bertemu dengan anak tunarungu, seringkali guru berinteraksi dengan murid anak tunarungu hanya sekedar bertanya kepada mereka sedang jajan apa, dan kemudian guru mengajarkan kepada anak tunarungu juga kosakata-kosakata baru yang belum mereka ketahui. 
Pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing para pelajar/siswa di dalam kehidupan yakni mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalani oleh siswa tersebut (Sardiman, 2008:12). Proses komunikasi dalam proses belajar mengajar ini menggunakan beberapa metode pengajaran. Dari hasil pengamatan dan turun langsung ke lapangan terdapat empat metode pengajaran dalam proses belajar mengajar ini yaitmetode ceramah, metode demontrasi, metode bermain sambil belajar, dan metode praktek.
Berbagai metode yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar ini akan mempengaruhi proses komunikasi yang terjadi antara guru dan anak tunarungu. Proses pengiriman pesan dengan berbagai metode ini bukan tidak mungkin terjadi berbagai macam gangguan komunikasi.
Proses Komunikasi Pada Proses Belajar Mengajar
Dimodifikasi dari Model Komunikasi Tubbs
        Gambar diatas menjelaskan tentang bagaimana proses komunikasi dalam proses belajar mengajar secara sederhana. Komunikator dalam hal ini bisa saja guru maupun tunarungu memgirimkan pesan, kemudian komunikan memberikan atau mempersepsi pesan yang dikirim oleh komunikator. Pesan yang dikirim bisa berupa pesan verbal maupun nonverbal. Garis putus yang menghubungkan antara komunikator dan komunikan menggambarkan sering kali terjadi hambaran pesan yang berasal dari komunikator. Hambatan pesan itu contohnya adalah kurang bisa komunikator mengemas pesan kepada komunikan. Kemudian komunikan mempersepsi pesan yang dikirim oleh dikirim oleh komunikator. Dalam proses mepersepsi pesan itu terdampat hambatan. Hambatan itu bisa berupa hambatan persepsi, hambatan denotasi, dan juga hambatan psikologis. Setelah melewati hambatan tersebut komunikan kemudian mengirimkan feedback  kepada komunikator. Feedbcak yang dikirimkan bisa berupa feedback positif maupun negatif.
 “anak-anak itu akan kasih tau ke saya kalo mengerti dengan mengangguk. Karena biasanya itu kan saya nanya ke mereka, mereka mengerti atau nggak apa yang saya bicarakan. Kalo mereka nggak mengerti biasanya mimiknya juga kelihatan dan biasanya sih anak-anak juga ngasih tau dengan menggeleng kalo mereka mengerti.”[1]
“Iya biasanya feedback yang diberikan itu memang secara langsung. Kalau mereka mengerti pasti mereka mengangguk tanda mengerti. Tapi, kalo mereka gak mengerti biasanya mereka diam atau bertanya lagi....”[2]
        Proses komunikasi yang terjadi antara anak tunarungu dengan guru di kelas mengacu pada perubahan dan tindakan yang terjadi secar terus menerus. Dalam proses komunikasi ini terjadi pertukaran makna, yaitu proses pengiriman pesan dan penerimaan pesan secara timbal balik. Harus terjadi persamaan pemahaman antara guru dan anak tunarungu agar terjadi efektifitas komunikasi.
Komunikasi interpersonal yang terjadi antara guru dan anak tunarungu mengharuskan mereka menukarkan makna ketika mereka saling berkomunikasi. Komunikasi dalam proses belajar muka ini terjadi secara bertatap muka antara guru dengan anak tunarungu, baik di kelas maupun di luar kelas. 
Komunikasi dalam proses belajar mengajar ini biasanya terjadi secara spontan dan tidak direncanakan. Guru dan anak tunarungu akan memberikan simbol-simbol isyarat tanpa perencanaan, dan mengalir begitu saja secara kebetulan. Tetapi, tetap mempunyai tujuan yang jelas untuk mencapai kesapakatan bersama antar guru dan anak tunarungu.


Terdapat beberapa tujuan dalam berkomunikasi antara guru dan anak tunarungu
1.     Pertukaran makna untuk mencapai kesepakatan bersama.
2.     Merubah sikap antara guru dengan anak tunarungu, maupun anak tunarungu dengan guru.
3.     Saling memahami dan memberikan pengertian, dalam hal ini guru biasanya memberikan pengertian tentang makna simbol yang diberikan dan kemudian anak tunarungu memahami makna simbol yang mereka tangkap, begitu juga sebaliknya.
4.     Memiliki tujuan edukatif.


Simbol bagi anak tunarungu adalah bahasa isyarat untuk menjelaskan makna bahasa atau kata agar mereka mudah menangkap maksud pesan yang ditujukan untuk mempermudah dalam berkomunikasi. Bahasa isyarat yang digunakan bagi anak tunarungu bisa berupa gerakan isyarat tangan, ekspreksi wajah, dan juga gerak tubuh. Makna simbol bagi anak tunarungu tidak hanya sebagai bahasa isyarat tetapi juga pemahaman mereka mengenai bahasa atau kata-kata yang digunakan oleh orang normal pada umumnya.
        Makna dipahami oleh anak tunarungu sebagai sesuatu tanda atau isyarat yang mereka terima, dan kemudian mereka membuat pemahaman menurut mereka sendiri, dan kemudian mengkonstruksi pesan atau tanda yang mereka untuk diberikan arti. Dalam proses belajar mengajar guru memberikan simbol-simbol untuk membantu mereka dalam menyampaikan materi yang disampaikan. Karena anak tunarungu akan lebih mudah memahami pesan yang disampaikan oleh guru apabila mereka menggunakan bahasa isyarat.
        Guru mereka biasanya menunjukan ekspresi muka untuk menyampaikan pesan kepada anak tunarungu. Karena anak tunarungu agar bisa dengan mudah menangkap dan memahami pesan yang disampaikan oleh guru mereka.
        Dalam komunikasi dalam proses belajar, guru lebih mengacu kepada SIBI dalam menggunakan bahasa isyarat. Dalam menjelaskan makna tentang bahasa isyarat kepada anak tunarungu harus dijelaskan tentang makna yang sebenarnya. Karena sering kali anak tunarungu itu salah memaknai makna yang ditangkap dan di konstruksi oleh anak tunarungu.
      “Setiap saya menjelaskan tentang sebuah  kata dengan bahasa isyarat, saya juga harus menjelaskan maknanya. Agar nantinya saya tidak salah menjelaskan ke anak. Dan menjelaskan ke anak itu harus benar-benar detail sekali.”[3]

        Guru Mengajarkan anak tunarungu isyarat-isyarat nonverbal kepada anak tunarungu di sekolah. Anak tunarungu selalu dapat mengingat isyarat yang mereka terima dari guru mereka, sesama anak tunarungu, maupun lingkungan. Karena anak tunarungu sangat mengandalkan indra pengelihatan untuk dapat berkomunikasi dengan lingkungan di sekitar mereka. Mereka melihat apapun yang ada di sekitar sebagai simbol dari komunikasi.
        Terdapat beberapa fungsi isyarat nonverbal bagi anak tunarungu dengan guru dalam proses belajar mengajar :
1.     Mempertegas bahasa verbal,
2.     Sebagai fungsi pengganti bahasa verbal dalam hal ini kosakata, karena anak tunarungu biasanya miskin bahasa, sehingga isyarat nonverbal sangat membantu dalam berkomunikasi.
3.     Memberikan makna bagi verbal.
4.     Mengulang kembali gagasan pesan yang dikirim secara verbal.
5.     Melengkapi makna bahasa verbal

Guru bagi anak tunarungu mengajarkan dengan menggunakan bahasa verbal dan nonverbal. Sering kali isyarat nonverbal dimaknai anak tunarugu bukan sebagai makna kata yang sebenarnya. Guru mengajarkan kepada muridnya tentang bagaimana simbol dimaknai.
Pertukaran makna ini terjadi pada saat guru menyampaikan pelajaran di kelas, ataupun pada saat guru sedang berkomunikasi dengan murid mereka di luar kelas. Pertukaran makna berlangsung terus menerus selama kegiatan belajar mengajar terus menerus dilakukan. Pertukaran makna yang terjadi dalam antara guru dengan anak tunarungu ini menggunakan beberapa metode belajar mengajar untuk menyampaikan materi pelajaran. Beberapa metode belajar mengajar yang biasanya digunakan antara guru dengan anak tunarungu yaitu, metode ceramah, metode demonstrasi, metode praktek, dan metode belajar sambil bermain.
Makna yang berasal dari anak tunarungu misalnya saja tanda anggukan ketika mereka mengerti mereka akan memberikan tanda anggukan. Dari anggukan tanda mengerti tersebut, berarti pertukaran makna antara anak tunarungu dengan guru berhasil. Apabila pertukaran makna antara guru dan anak tunarungu tidak berhasil, maka anak tunarungu akan memberikan isyarat gelengan kepala tidak mengerti. Dan guru akan menjelaskan kembali makna kata yang diucapkan, sehingga anak tunarungu dapat mengerti dan pertukaran makna kata antara guru dan anak tunarugu ini bisa dikatakan berhasil.
Pertukaran makna anak tunarungu ditandai dengan dimulainya dengan guru menjelaskan kepada anak tunarungu, dan kemudian anak tunarungu mengkonstruksi pesan yang diterima. Setelah di konstruksi kemudian anak tunarungu memaknai kata yang mereka tangkap. Dan langsung memberikan feedbcak biasanya dengan bertanya.
Pemaknaan anak tunarungu ditandai dengan adanaya isyarat yang digunakan oleh anak tunarungu sebagai simbol-simbol komunikasi yang mereka terima. Makna isyarat bagi anak tunarungu harus mudah dimengerti oleh anak tunarungu, jelas, dan mantap.
Ketika simbol isyarat itu digunakan maka harus ada keserempakan antara berisyarat dengan berbicara sewaktu berkomunikasi. Karena agar anak tunarungu dapat dengan mudah memaknai dan menangkap simbol-simbol dalam proses belajar ini. Setiap individu dari anak tunarungu mempunyai cara yang berbeda dalam mengkonstruksi sebuah makna pesan yang mereka tangkap. Banyak faktor yang sangat mempengaruhi konstruksi pemaknaan anak tunarungu. Biasanya konstruksi pemaknaan ini berdasarkan pada apa yang mereka liat, baru kemudian anak tunarungu memaknainya dan memberikan arti bagi komunikasi yang terjadi antara anak tunarungu dan lawan bicaranya.
Konstruksi pemaknaan simbol-simbol ini dibentuk berdasarkan pada pengalaman anak tunarungu berkomunikasi dengan orang lain. Guru dan anak tunarungu berusaha untuk saling mengerti  satu sama lain. Ketika guru bertindak sebagai komunikator, maka anak tunarungu yang bertindak sebagai komunikan akan berusaha mengerti makna simbol komunikasi yang diberikan oleh guru. Begitu juga sebaliknya ketika anak tunarungu bertindak sebagai komunikator, guru sebagai komunikan akan berusaha mengerti makna simbol komunikasi yang diberikan oleh anak tunarungu.
Komponen Penentu Makna
a.     Penampil yaitu, tangan atau bagian tangan yang digunakan untuk membentuk isyarat.
b.     Posisi, yaitu kedudukan tangan atau kedua tangan terhadap pengisyarat pada waktu berisyarat.
c.     Tempat, yaitu bagian badan yang menjadi tempat awal isyarat dibentuk atau arah akhir isyarat.
d.     Arah, yaitu gerak pemberi isyarat ketika isyarat dibuat.
e.     Frekuensi yaitu jumlah gerak yang dilakukan pada waktu isyarat dibentuk. Ada isyarat yang frekuensinya hanya sekali, ada yang dua kali atau lebih, atau ada juga gerakan kecil yang diulang-ulang.

Konstruksi pemaknaan tidak hanya terjadi pada diri anak tunarungu, tetapi juga terjadi pada guru. Konstruksi pemaknaan yang terjadi pada guru ini bertujuan untuk menerima respon yang diterima dari anak tunarungu. Pada saat anak tunarungu mengirimkan feedback-nya saat itu juga guru akan mengkonstruksi makna yang diterima.          

Konstruksi Makna dalam Proses Belajar Mengajar

Gambar diatas menjelaskan tentang bagaimana anak tunarungu dan guru memaknai simbol yang mereka terima dalam proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar biasanya akan dimaknai simbol-simbol baru maupun simbol-simbol lama sebagai hasil dari interaksi antara guru dan anak tunarungu. Simbol tersebut dikirim dalam bahasa verbal maupun nonverbal. Setelah pesan tersebut dikirim kemudian anak tunarungu membuat pemaknaan atas simbol tersebut. Baru kemudian anak tunarungu mengirimkan feedback kepada guru mereka atas pemaknaan yang sudah diterima oleh anak tunarungu. Feedbcak yang dikirim menunujukan bahwa pesan tersebut diterima dengan baik atau tidak oleh anak tunarungu. Dalam komunikasi dengan anak tunarungu tidak bisa dipisahkan dari simbol-simbol dan juga pemaknaan dari simbol yang mereka tangkap dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya.
Hambatan bagi anak tunarungu tidak timbul hanya dari kekurangan fisik yang mereka miliki. Tetapi, juga hambatan komunikasi bagi anak tunarungu juga timbul akibat dari lingkungan sekitar mereka, seperti dari emosi, daya tangkap dan serap, komunikator yang kurang jelas dalam menyampaikan pesan. Hambatan komunikasi bagi anak tunarungu akan menyebabkan anak tunarungu akan sulit berkomunikasi dengan lawan bicara mereka.

KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
                Berdasarkan kepada hasil penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.     Makna dibentuk oleh anak tunarungu sebagai suatu hasil interaksi dengan sesama anak tunarungu atau dengan guru mereka pada saat proses belajar mengajar. Komunikasi antara guru dan anak tunarungu dalam proses belajar mengajar yaitu memberitahukan, menyampaikan pesan agar terjadi pengertian bersama dalam proses belajar mengajar. Interaksi yang terjadi dalam proses belajar ini bersifat timbal balik.
2.     Proses belajar mengajar antara guru dan anak tunarungu mengaharuskan mereka saling menukarkan makna pada saat terjadi komunikasi interpersonal secara tatap muka. Untuk mencapai keefektifan komunikasi perlu adanya emphati, keterbukaan, rasa positif, dan kepercayaan.
3.     Simbol bagi anak tunarungu adalah adalah bahasa isyarat yang menjelaskan makna bahasa atau kata agar anak tunarungu lebih mudah menangkap maksud pesan yang ditujukan dalam berkomunikasi. Isyarat nonverbal anak tunarungu sangat membantu mereka dalam berkomunikasi. Isyarat nonverbal tersebut terdiri dari isyarat tangan, gerak tubuh, mimik wajah, dan kontak mata.
4.     Konstruksi pemaknaan bagi anak tunarungu biasanya berdasarkan pada pengalaman mereka dalam berkomunikasi sehari-hari pada proses belajar mengajar.
5.     Pada proses pengirimin pesan antara guru dan anak tunarungu terdapat banyak hambatan. Hambatan yang terjadi meliputi hambatan persepsi, denotatif, dan hambatan psikologis.

5.2.  Saran
Dari hasil penelitian ini, saran yang akan diberikan oleh penulis adalah sebagai berikut :
1.     Guru pengajar hendaknya setiap hari memberikan kata-kata dan bahasa baru kepada anak tunarungu agar mereka bisa kaya  akan kosakata bahasa verbal, sehingga lebih mudah dalam berkomunikasi dengan lingkungan.
2.     Anak tunarungu seharusnya setiap hari dilatih untuk bisa berbicara dengan bahasa lisan, agar mereka tidak selalu mengandalkan bahasa isyarat pada saat berkomunikasi dengan lingkungan sekitar mereka.
3.     Hendaknya lingkungan bisa lebih menerima kekurangan yang dimiliki oleh anak tunarungu, karena pada dasarnya mereka dan manusia normal terlihat sama di mata Tuhan YME.




DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan, 2007. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT. RajawaliGrafindo Persada
    ,  2008. Penelitian Kualitatif : Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.
Cangara, Hafied. 2009. Pengantar Ilmu Komunikasi : Edisi Revisi. Jakarta : Rajawali Pers.
Danesi, Marcel, 2010.  Pesan, Tanda, dan Makna : Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta : Jalansutra.
Departemen Pendidikan Nasional, 2000. Pedoman Guru Pengajaran Bina Persepsi Bunyi dan Irama Untuk Anak Tunarungu. Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, 2001. Kamus Sistem Isyarat Bahasa. Jakarta : Direktorat Pendidikan Luar Biasa.
Jalaludin Rakhmat, 1994. Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kuswarno, Engkus. 2008. Etnografi Komunikasi  : Suatu Pengantar dan Contoh Penelitiannya. Bandung  : Widya Padjadjaran.
    , 2009. Metode Penelitian Komunikasi: Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung : Widya Padjadjaran.
Littlejohn, 1999.  Theories of Human Communication, Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.
Moleong, Lexy.J. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
 Mulyana, Deddy. 2005.  Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ryadi Soeprapto,. 2000. Interaksionisme Simbolik, Perspektiof Sosiologi Modern. Malang:  Averroes Press dan Pustaka Pelajar.
Sardiman, 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.
Soeprato, Riyadi, 2000. Interaksionisme Simbolik, Perspektiof Sosiologi Modern. Malang: Averroes Press dan Pustaka Pelajar.
Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung. Alfabeta.
Tubbs, Stewart L. Sylvia Moss. Human Commnunication. Edisi ke-7. New York : McGraw-Hill, 1994, hlm.7.


Sumber Lain
http://massofa.wordpress.com/2008/07/13/metode-ceramah-dalam-pembelajaran/, diunggah pada tanggal 5 Juni 2011 pukul 01.46 WIB

http://martiningsih.blogspot.com/2007/12/macam-macam-metode-pembelajaran.html. diunggah pada tanggal 6 Juni 201, Pukul 14.21 WIB













[1] Hasil wawancara dengan Ibu Kokom
[2] Hasil wawancara dengan Ibu Rina
[3] Kutipan wawancara dengan Ibu Nunung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar