Sarah Nurtyasrini
210120130013
Jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu
Komunikasi Universitas Padjadjaran
Abstrack
The results of this
research are symbols by teacher of children with hearing impairment and the
sign language wihich explains the meaning the meaning of the language which
explain the meaning of children with hearing impairment more easily
comprehended the message for the purpose in communicating. The learning process
between teacher and children with hearing impairment require them to exchange
meaning with each other when interpersonal communication occurred by face to
face. Non verbal communication helped children with hearing the symbol that
they have got.
The conclucion of
this research is that the verbal or nonverbal symbols that they received, has
helped them to understand every message that they’ve got in teaching and
learning process. In this research, writer suggested that in daily school,
children must be trained to speak and to gain new vocabulary from their
theacher. Therefore, they can be interact with other people normally and their
envioronment around them.
Latar Belakang Masalah
Nabila dan Rina adalah murid tunarungu yang ada
di SLB-B Pembina tingkat Propinsi Jawa Barat di
Kabupaten Sumedang. Nabila dan Rina saat ini berusia 10 tahun dan masih
duduk di kelas dua Sekolah Dasar (SD). Pada perkembangan anak normal seharusnya
mereka saat ini sudah ada pada tingkat kelas empat Sekolah Dasar.
Meskipun mereka sama-sama penderita tunarungu
namun mereka memiliki karakter yang berbeda. Nabila lebih tertutup terhadap
lingkungannya. Nabila tidak dapat berkomunikasi baik dengan lingkungan sekitar.
Dia cendrung lebih pemalu dibandingkan dengan Rina. Rina merupakan penderita
tunarungu yang lebih percaya diri. Rina dapat dengan mudah bergaul dengan
lingkungan sekitar. Selain itu juga Rina selalu ingin mengetahui dengan hal-hal
baru yang ditemuinya pada lingkungan sekitarnya. Selain itu lingkungan keluarga
Rina lebih bisa menerima keadaan Rina dan bisa membimbing dia. Hal ini sangat
berbeda sekali dengan Nabila. Lingkungan keluarga Rina lebih tertutup dengan
keadaan Rina. Sehingga ini yang menyebabkan Nabila lebih tertutup dibandingkan
dengan Rina.
Pada awal proses belajar mengajar ketika Rina
baru dimasukan ke SLB-B Pembina terdapat banyak kendala dalam berkomunnikasi
terutama pada penggunaan bahasa dalam berkomunikasi antara Rina dengan guru
pengajarnya di sekolah. Anak tunarungu mempunyai masalah dalam penggunaan
kosakata bahasa Indonesia, dan anak tunarungu biasanya miskin perbendaharaan
kata-kata. Seiring dengan proses belajar mengajar di Sekolah, saat ini Rina
sudah mampu menggunakan mempunyai banyak pembendaharaan kata-kata yang bisa
digunakan dalam berkomunikasi dengan lingkungan normal pada umumnya. Karena
perkembangan psikologis Rina yang baik, maka Rina lebih bisa cepat berkembang.
Berbeda dengan Rina, Nabila memilik sifat lebih tertutup.
Hal ini dikarenakan orang tua Nabila kurang bisa menerima kekurangan
pendengaran yang diderita Nabila sejak kecil. Karena kekurangan yang dialami
oleh Nabila, maka Nabila sering kali tidak ajak bergaul keluar rumah, dan
dibiarkan untuk berman di dalam rumah saja tanpa diizinkan untuk bisa bermain
diluar sehingga hal ini yang menyebabkan pribadi Nabila menjadi lebih tertutup
dan tumbuh menjadi anak yang pemalu dan kurang percaya diri terhadap kekurangan
yang dimilikinya. Pada awalnya orang tua
Nabila memang tidak bisa menerima kekurangan yang dialami oleh Nabila.
Ibu Nunung adalah guru Rina dan Nabila di
sekolah. Ibu Nunung menerapkan pola asuh yang berbeda terhadap Rina dan Nabila.
Namun, perlakuan yang diberikan sama. Pendekatan yang dilakukan oleh Ibu Nunung
dalam proses belajar terhadap Rina dan Nabila berbeda, karena Rina dan Nabila
memiliki karakter yang berbeda juga.
Pola asuh yang diberikan oleh guru pada anak tuna
rungu pastinya akan berbeda dengan anak normal pada anak pada umumnya. Setiap
guru akan membedakan cara berkomunikasi dan pola asuh terhadap anak tunarungu,
karena secara psikologis dan emosi setiap individu anak tunarung berbeda. Hal
ini juga yang membedakan pola asuh yang diberikan oleh guru, agar anak
tunarungu bisa menerima penyerapan pelajaran dengan baik.
Penderita tuna rungu bisa berkomunikasi dengan
cara dengan verbal dan non verbal. Isyarat merupakan salah satu cara
berkomunikasi secara efektif dengan penderita tuna rungu. Ketika kita
menggunakan bahasa dan juga isyarat untuk berkomunikasi dengan penderita tuna
rungu bisa dengan mudah menangkap maksud dari pesan yang kita sampaikan.
Penderita tuna rungu bisa dilatih secara perlahan agar bisa berkomunikasi
secara baik dengan lingkungan sekitarnya. Isyarat merupakan salah satu
pengganti bahasa lisan untuk berkomunikasi dengan anak tuna rungu. Pendidikan
seperti anak normal pada umumnya juga harus diterima oleh anak penderita tuna
rungu. Karena pada dasarnya anak penderita tuna rungu juga berhak mendapatkan
pendidikan sekolah yang layak. Pendidikan yang diterima anak tuna rungu
bertujuan agar mereka bisa berkomunikasi baik dengan lingkungan di sekitar
mereka.
Guru sangat bertanggung jawab pada pendidikan
bagi anak tunarungu di sekolah. Bagaimana sang guru dapat memberikan penjelasan mengenai
lingkungan sosial mereka dan mengerti bagaimana mereka harus bersosialisasi
dengan baik. Guru adalah pendidik yang melahirkan anak-anak bangsa yang
berprestasi. Pendidikan yang diterima anak tunarungu
diharapkan bisa menjadikan anak tunarungu mengaktualisasikan diri mereka.
Biasanya guru lebih sering menggunakan bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi
dengan muridnya. Komunikasi nonverbal antara guru dan anak tuna rungu dalam
proses belajar mengajar sangatlah menarik untuk diteliti. Bagi peneliti pola
komunikasi yang terjadi antara guru dan anak tunarungu menjadi hal yang sangat
menarik untuk di teliti.
Fokus Penelitian
Berdasarkan
pada latar belakang yang dipaparkan diatas maka yang menjadi fokus pada
penelitian ini adalah “Bagaimana Pemaknaan simbol-simbol komunikasi
interpersonal dalam proses belajar mengajar oleh guru anak tunarungu di SLB-B
Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat?”
Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pada fokus
penelitian diatas maka pertanyaan penelitiannya adalah :
1.
Bagaimana
proses pengiriman pesan dalam berkomunikasi anak tunarungu dengan guru pada
proses belajar mengajar di lingkungan SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa
Barat?
2.
Bagaimana
isyarat-isyarat nonverbal dalam proses belajar mengajar anak tunarungu dengan
guru pada proses belajar mengajar di lingkungan SLB-B Pembina Tingkat Propinsi
Jawa Barat?
3.
Bagaimana
pertukaran makna anak tunarungu dengan guru pada proses belajar mengajar di
lingkungan SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat?
4.
Bagaimana
konstruksi pemaknaan simbol-simbol nonverbal dalam proses belajar anak
tunarungu dengan guru pada proses belajar mengajar di lingkungan SLB-B Pembina
Tingkat Propinsi Jawa Barat?
5.
Gangguan
komunikasi apa saja yang terjadi antar anak tunarungu dengan guru pada proses
belajar mengajar di lingkungan SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk :
1.
Untuk
mengetahui proses pengiriman pesan dalm komunikasi anak tunarungu dengan guru
dalam proses belajar mengajar di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat.
2.
Untuk
mengetahui gangguan komunikasi apa saja yang terjadi antara anak tunarungu dengan guru dalam proses belajar
mengajar di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat.
3.
Untuk
mengetahui isyarat-isyarat nonverbal dalam proses belajar mengajar anak
tunarungu dengan guru di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat.
4.
Untuk
mengetahui konstruksi pemaknaan simbol-simbol nonverbal dalam proses belajar
mengajar anak tunarungu dengan guru di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa
Barat.
5.
Untuk
mengetahui pertukaran makna anak tunarungu dengan guru dalam proses belajar
mengajar di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat.
Manfaat Penelitian
Maanfaat Praktis
1.
Diharapkan
dapat memberikan sumbangan ilmu kepada dunia komunikasi tentang pola komunikasi
anak tugna rungu.
2.
Diharapkan
dapat berguna bagi penelitian selanjutnya yang akan meneliti tentang komunikasi
dengan anak tunarungu.
Maanfaat Teoritis
1. Sebagai sumbangan pemikiran dan sumber informasi bagi penelitian lainnya mengenai penelitan sejenis.
2. Memberikan kontribusi bagi pengembangan penelitian di bidang ilmu
komunikasi khususnya jurusan hubungan masyarakat mengenai penelitian kualitatif.
Landasan Teori
Teori Interakasi Simbolik
Penelitian ini menggunakan teori interaksi
simbolik. Teori interasksi simbolik membahas mengenai
interaksi antar umat manusia yang menggunakan simbol-simbol, yang
didalamnya berisi tanda-tanda isyarat dan kata-kata.
Alasan pemilihan teori ini dalam penelitian ini
adalah karena anak tunarungu menggunkanan bahasa isyarat dalam berkomunikasi
mereka sehari-hari. Teori ini sangat mengedapankan tanda-tanda isyarat atau
bahasa isyarat dalam berkomunikasi.
Perilaku seseorang
dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh oranglain, demikian pula perilaku
orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat
mengutarakan perasaan, pikiran,maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca
simbol yang ditampilkan oleh orang lain. Anak tunarungu mengutarakan perasaan,
dan pikirannya kepada orang lain melalui bahasa verbal dan nonverbal. Pemberian
isyarat akan lebih mudah dipahami oleh anak tunarungu apabila kita
menggunakannya dalam berkomunikasi dengan anak tunarungu.
Ada tiga premis dalam
utama dalam teori interaksi simbolik, yang dikemukan oleh Herbert Blummer yaitu :
1. Manusia bertindak
berdasarkan makna-makna yang mereka tangkap dari suatu hal.
2. Makna tersebut diperoleh
dari interaksi dengan orang lain.
3. Makna tersebut
berkembang dan disempurnakan saat interaksi tersebut berlangsung.
Mead dan Charles Horton
Cooley menmukan bahwa manusia berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol,
yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat, dan kata-kata. Dengan kata lain,
interkasionisme simbolik memokuskan diri pada hakekat interkasi, pada pola-pola
dinamis dari tindakan sosial, dan hubungan sosial.
Metodologi Penelitian
Metode
Kualitatif
Fokus utama dalam penelitian bagaimana pemaknaan komunikasi
interpersonal anak tunarungu dalam proses belajar di SLB-B Pembina Tingkat
Propinsi Jawa Barat. Menurut hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di
SLB-B Pembina Tingkat Provinsi di Sumedang, peneliti menndapatkan keunikasan
tentang komunikasi interpersonal yang terbentuk pada saat guru menyampaikan
pelajaran kepada anak tuna rungu. Komunikasi verbal dan komunikasi non verbal
sangat berguna bagi anak tuna rungu. Komunikasi non verbal menjadi salah satu
cara yang paling efektif dalam menyampaikan pesan kepada anak tuna rungu.
Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Metode
kualitatif merupakan suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan
pada metodelogi yang menyelediki suatu fenomena sosial dan masalah manusia.
Pada penelitian ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti
kata-kata, laporan terperinci dari pandangan responden dan melakukan studi pada
situasi yang alami. (Cresswel, 1998 :15).
Pendekatan
Fenomenologi
Penelitian ini
mengenai pemaknaan simbol-simbol komunikasi interpersonal anak tunarungu dalam
proses belajar mengajar di SLB-B Pembina Tingkat Propinsi Jawa Barat dengan
pendekatan fenomenologi karena peneliti berusaha menggambarkan fenomena
pemaknaan simbol komunikasi interpersonal anak tunarungu dalam proses belajar
mengajar. Fenomenlogi mampu menjelaskan dan mengungkapkan esensi dari pengalaman
manusia. Fenomenologi adalah studi tentang pengetahuan yang berasal dari
kesadaran manusia atau cara dimana orang-orang menjadi paham akan objek-objek
dan peristiwa-peristiwa dengan mengalaminya sendiri (Little John, 1997:354).
Dari pengertian tersebut pula, kita bisa memahami bahwa pemahaman sesuatu
dihasilkan dari pengalaman.
Pembahasan
Kegiatan
belajar mengajar anak tunarungu dengan guru tidak dapat kita pisahkan dari
interasksi dan proses komunikasi. Anak tunarungu berkomunikasi dengan menggunakan
bahasa isyarat sebagai alat bantu mereka untuk bisa memaknai simbol bahasa
verbal yang mereka terima dari lawan bicaranya. Proses komunikasi dalam belajar
mengajar tidak dapat dipisahkan dari interasksi antara guru dengan anak
tunarungu. Interaksi yang terjadi antara guru dan anak tunarungu adalah
interaksi edukatif. Interaksi yang terjadi antara guru dan anak tunarungu pada
dasarnya adalah komunikasi timbal balik dan diadik, dimana terdapat proses
saling mempengaruhi antara guru dan anak tunarungu begitu juga sebaliknya
antara anak tunarungu dengan guru, mengandung maksud-maksud tertentu, yakni
untuk mencapai pengertian bersama untuk mencapai tujuan dalam proses belajar
mengajar yaitu belajar.
Terkadang
interkasi antara guru dan anak tunarungu itu terjadi secara tidak sengaja.
Sebagai contoh ketika jam istirahat ketika anak tunarungu bertemu dengan anak
tunarungu, seringkali guru berinteraksi dengan murid anak tunarungu hanya
sekedar bertanya kepada mereka sedang jajan apa, dan kemudian guru mengajarkan
kepada anak tunarungu juga kosakata-kosakata baru yang belum mereka
ketahui.
Pengajaran
merupakan proses yang berfungsi membimbing para pelajar/siswa di dalam
kehidupan yakni mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus
dijalani oleh siswa tersebut (Sardiman, 2008:12). Proses komunikasi dalam
proses belajar mengajar ini menggunakan beberapa metode pengajaran. Dari hasil
pengamatan dan turun langsung ke lapangan terdapat empat metode pengajaran
dalam proses belajar mengajar ini yaitmetode ceramah, metode demontrasi, metode
bermain sambil belajar, dan metode praktek.
Berbagai
metode yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar ini akan mempengaruhi
proses komunikasi yang terjadi antara guru dan anak tunarungu. Proses
pengiriman pesan dengan berbagai metode ini bukan tidak mungkin terjadi
berbagai macam gangguan komunikasi. 

Proses Komunikasi Pada
Proses Belajar Mengajar
Dimodifikasi dari
Model Komunikasi Tubbs
Gambar diatas menjelaskan tentang
bagaimana proses komunikasi dalam proses belajar mengajar secara sederhana.
Komunikator dalam hal ini bisa saja guru maupun tunarungu memgirimkan pesan,
kemudian komunikan memberikan atau mempersepsi pesan yang dikirim oleh
komunikator. Pesan yang dikirim bisa berupa pesan verbal maupun nonverbal.
Garis putus yang menghubungkan antara komunikator dan komunikan menggambarkan
sering kali terjadi hambaran pesan yang berasal dari komunikator. Hambatan
pesan itu contohnya adalah kurang bisa komunikator mengemas pesan kepada
komunikan. Kemudian komunikan mempersepsi pesan yang dikirim oleh dikirim oleh
komunikator. Dalam proses mepersepsi pesan itu terdampat hambatan. Hambatan itu
bisa berupa hambatan persepsi, hambatan denotasi, dan juga hambatan psikologis.
Setelah melewati hambatan tersebut komunikan kemudian mengirimkan feedback kepada komunikator. Feedbcak yang dikirimkan bisa berupa feedback positif maupun negatif.
“anak-anak itu akan kasih tau ke saya kalo
mengerti dengan mengangguk. Karena biasanya itu kan saya nanya ke mereka,
mereka mengerti atau nggak apa yang saya bicarakan. Kalo mereka nggak mengerti
biasanya mimiknya juga kelihatan dan biasanya sih anak-anak juga ngasih tau
dengan menggeleng kalo mereka mengerti.”[1]
“Iya
biasanya feedback yang diberikan itu
memang secara langsung. Kalau mereka mengerti pasti mereka mengangguk tanda
mengerti. Tapi, kalo mereka gak mengerti biasanya mereka diam atau bertanya
lagi....”[2]
Proses komunikasi yang terjadi antara
anak tunarungu dengan guru di kelas mengacu pada perubahan dan tindakan yang
terjadi secar terus menerus. Dalam proses komunikasi ini terjadi pertukaran
makna, yaitu proses pengiriman pesan dan penerimaan pesan secara timbal balik.
Harus terjadi persamaan pemahaman antara guru dan anak tunarungu agar terjadi
efektifitas komunikasi.
Komunikasi
interpersonal yang terjadi antara guru dan anak tunarungu mengharuskan mereka
menukarkan makna ketika mereka saling berkomunikasi. Komunikasi dalam proses
belajar muka ini terjadi secara bertatap muka antara guru dengan anak
tunarungu, baik di kelas maupun di luar kelas.
Komunikasi dalam proses belajar mengajar ini biasanya terjadi
secara spontan dan tidak direncanakan. Guru dan anak tunarungu akan memberikan
simbol-simbol isyarat tanpa perencanaan, dan mengalir begitu saja secara
kebetulan. Tetapi, tetap mempunyai tujuan yang jelas untuk mencapai kesapakatan
bersama antar guru dan anak tunarungu.
Terdapat beberapa
tujuan dalam berkomunikasi antara guru dan anak tunarungu
1.
Pertukaran
makna untuk mencapai kesepakatan bersama.
2.
Merubah
sikap antara guru dengan anak tunarungu, maupun anak tunarungu dengan guru.
3.
Saling
memahami dan memberikan pengertian, dalam hal ini guru biasanya memberikan
pengertian tentang makna simbol yang diberikan dan kemudian anak tunarungu
memahami makna simbol yang mereka tangkap, begitu juga sebaliknya.
4.
Memiliki
tujuan edukatif.
Simbol bagi anak
tunarungu adalah bahasa isyarat untuk menjelaskan makna bahasa atau kata agar
mereka mudah menangkap maksud pesan yang ditujukan untuk mempermudah dalam
berkomunikasi. Bahasa isyarat yang digunakan bagi anak tunarungu bisa berupa
gerakan isyarat tangan, ekspreksi wajah, dan juga gerak tubuh. Makna simbol
bagi anak tunarungu tidak hanya sebagai bahasa isyarat tetapi juga pemahaman
mereka mengenai bahasa atau kata-kata yang digunakan oleh orang normal pada
umumnya.
Makna dipahami oleh
anak tunarungu sebagai sesuatu tanda atau isyarat yang mereka terima, dan
kemudian mereka membuat pemahaman menurut mereka sendiri, dan kemudian
mengkonstruksi pesan atau tanda yang mereka untuk diberikan arti. Dalam proses
belajar mengajar guru memberikan simbol-simbol untuk membantu mereka dalam
menyampaikan materi yang disampaikan. Karena anak tunarungu akan lebih mudah
memahami pesan yang disampaikan oleh guru apabila mereka menggunakan bahasa
isyarat.
Guru mereka biasanya menunjukan ekspresi
muka untuk menyampaikan pesan kepada anak tunarungu. Karena anak tunarungu agar
bisa dengan mudah menangkap dan memahami pesan yang disampaikan oleh guru
mereka.
Dalam komunikasi dalam
proses belajar, guru lebih mengacu kepada SIBI dalam menggunakan bahasa
isyarat. Dalam menjelaskan makna tentang bahasa isyarat kepada anak tunarungu
harus dijelaskan tentang makna yang sebenarnya. Karena sering kali anak
tunarungu itu salah memaknai makna yang ditangkap dan di konstruksi oleh anak
tunarungu.
“Setiap saya menjelaskan tentang
sebuah kata dengan bahasa isyarat, saya
juga harus menjelaskan maknanya. Agar nantinya saya tidak salah menjelaskan ke
anak. Dan menjelaskan ke anak itu harus benar-benar detail sekali.”[3]
Guru Mengajarkan anak
tunarungu isyarat-isyarat nonverbal kepada anak tunarungu di sekolah. Anak
tunarungu selalu dapat mengingat isyarat yang mereka terima dari guru mereka,
sesama anak tunarungu, maupun lingkungan. Karena anak tunarungu sangat
mengandalkan indra pengelihatan untuk dapat berkomunikasi dengan lingkungan di
sekitar mereka. Mereka melihat apapun yang ada di sekitar sebagai simbol dari
komunikasi.
Terdapat beberapa
fungsi isyarat nonverbal bagi anak tunarungu dengan guru dalam proses belajar
mengajar :
1.
Mempertegas
bahasa verbal,
2.
Sebagai
fungsi pengganti bahasa verbal dalam hal ini kosakata, karena anak tunarungu
biasanya miskin bahasa, sehingga isyarat nonverbal sangat membantu dalam
berkomunikasi.
3.
Memberikan
makna bagi verbal.
4.
Mengulang
kembali gagasan pesan yang dikirim secara verbal.
5. Melengkapi makna
bahasa verbal
Guru
bagi anak tunarungu mengajarkan dengan menggunakan bahasa verbal dan nonverbal.
Sering kali isyarat nonverbal dimaknai anak tunarugu bukan sebagai makna kata
yang sebenarnya. Guru mengajarkan kepada muridnya tentang bagaimana simbol
dimaknai.
Pertukaran
makna ini terjadi pada saat guru menyampaikan pelajaran di kelas, ataupun pada
saat guru sedang berkomunikasi dengan murid mereka di luar kelas. Pertukaran
makna berlangsung terus menerus selama kegiatan belajar mengajar terus menerus
dilakukan. Pertukaran makna yang terjadi dalam antara guru dengan anak
tunarungu ini menggunakan beberapa metode belajar mengajar untuk menyampaikan
materi pelajaran. Beberapa metode belajar mengajar yang biasanya digunakan
antara guru dengan anak tunarungu yaitu, metode ceramah, metode demonstrasi,
metode praktek, dan metode belajar sambil bermain.
Makna
yang berasal dari anak tunarungu misalnya saja tanda anggukan ketika mereka
mengerti mereka akan memberikan tanda anggukan. Dari anggukan tanda mengerti
tersebut, berarti pertukaran makna antara anak tunarungu dengan guru berhasil.
Apabila pertukaran makna antara guru dan anak tunarungu tidak berhasil, maka
anak tunarungu akan memberikan isyarat gelengan kepala tidak mengerti. Dan guru
akan menjelaskan kembali makna kata yang diucapkan, sehingga anak tunarungu
dapat mengerti dan pertukaran makna kata antara guru dan anak tunarugu ini bisa
dikatakan berhasil.
Pertukaran
makna anak tunarungu ditandai dengan dimulainya dengan guru menjelaskan kepada
anak tunarungu, dan kemudian anak tunarungu mengkonstruksi pesan yang diterima.
Setelah di konstruksi kemudian anak tunarungu memaknai kata yang mereka
tangkap. Dan langsung memberikan feedbcak
biasanya dengan bertanya.
Pemaknaan anak tunarungu ditandai dengan
adanaya isyarat yang digunakan oleh anak tunarungu sebagai simbol-simbol
komunikasi yang mereka terima. Makna isyarat bagi anak tunarungu harus mudah
dimengerti oleh anak tunarungu, jelas, dan mantap.
Ketika
simbol isyarat itu digunakan maka harus ada keserempakan antara berisyarat
dengan berbicara sewaktu berkomunikasi. Karena agar anak tunarungu dapat dengan
mudah memaknai dan menangkap simbol-simbol dalam proses belajar ini. Setiap
individu dari anak tunarungu mempunyai cara yang berbeda dalam mengkonstruksi
sebuah makna pesan yang mereka tangkap. Banyak faktor yang sangat mempengaruhi
konstruksi pemaknaan anak tunarungu. Biasanya konstruksi pemaknaan ini
berdasarkan pada apa yang mereka liat, baru kemudian anak tunarungu memaknainya
dan memberikan arti bagi komunikasi yang terjadi antara anak tunarungu dan
lawan bicaranya.
Konstruksi
pemaknaan simbol-simbol ini dibentuk berdasarkan pada pengalaman anak tunarungu
berkomunikasi dengan orang lain. Guru dan anak tunarungu berusaha untuk saling
mengerti satu sama lain. Ketika guru
bertindak sebagai komunikator, maka anak tunarungu yang bertindak sebagai
komunikan akan berusaha mengerti makna simbol komunikasi yang diberikan oleh
guru. Begitu juga sebaliknya ketika anak tunarungu bertindak sebagai
komunikator, guru sebagai komunikan akan berusaha mengerti makna simbol
komunikasi yang diberikan oleh anak tunarungu.
Komponen
Penentu Makna
a.
Penampil
yaitu, tangan atau bagian tangan yang digunakan untuk membentuk isyarat.
b.
Posisi,
yaitu kedudukan tangan atau kedua tangan terhadap pengisyarat pada waktu
berisyarat.
c.
Tempat,
yaitu bagian badan yang menjadi tempat awal isyarat dibentuk atau arah akhir
isyarat.
d.
Arah,
yaitu gerak pemberi isyarat ketika isyarat dibuat.
e.
Frekuensi
yaitu jumlah gerak yang dilakukan pada waktu isyarat dibentuk. Ada isyarat yang
frekuensinya hanya sekali, ada yang dua kali atau lebih, atau ada juga gerakan
kecil yang diulang-ulang.
Konstruksi
pemaknaan tidak hanya terjadi pada diri anak tunarungu, tetapi juga terjadi
pada guru. Konstruksi pemaknaan yang terjadi pada guru ini bertujuan untuk menerima
respon yang diterima dari anak tunarungu. Pada saat anak tunarungu mengirimkan feedback-nya saat itu juga guru akan
mengkonstruksi makna yang diterima.

Konstruksi Makna dalam Proses Belajar Mengajar
Gambar
diatas menjelaskan tentang bagaimana anak tunarungu dan guru memaknai simbol
yang mereka terima dalam proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar
biasanya akan dimaknai simbol-simbol baru maupun simbol-simbol lama sebagai
hasil dari interaksi antara guru dan anak tunarungu. Simbol tersebut dikirim
dalam bahasa verbal maupun nonverbal. Setelah pesan tersebut dikirim kemudian
anak tunarungu membuat pemaknaan atas simbol tersebut. Baru kemudian anak
tunarungu mengirimkan feedback kepada
guru mereka atas pemaknaan yang sudah diterima oleh anak tunarungu. Feedbcak yang dikirim menunujukan bahwa
pesan tersebut diterima dengan baik atau tidak oleh anak tunarungu. Dalam
komunikasi dengan anak tunarungu tidak bisa dipisahkan dari simbol-simbol dan
juga pemaknaan dari simbol yang mereka tangkap dalam berkomunikasi dengan lawan
bicaranya.
Hambatan
bagi anak tunarungu tidak timbul hanya dari kekurangan fisik yang mereka
miliki. Tetapi, juga hambatan komunikasi bagi anak tunarungu juga timbul akibat
dari lingkungan sekitar mereka, seperti dari emosi, daya tangkap dan serap,
komunikator yang kurang jelas dalam menyampaikan pesan. Hambatan komunikasi
bagi anak tunarungu akan menyebabkan anak tunarungu akan sulit berkomunikasi
dengan lawan bicara mereka.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan kepada hasil
penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1.
Makna
dibentuk oleh anak tunarungu sebagai suatu hasil interaksi dengan sesama anak
tunarungu atau dengan guru mereka pada saat proses belajar mengajar. Komunikasi
antara guru dan anak tunarungu dalam proses belajar mengajar yaitu
memberitahukan, menyampaikan pesan agar terjadi pengertian bersama dalam proses
belajar mengajar. Interaksi yang terjadi dalam proses belajar ini bersifat
timbal balik.
2.
Proses
belajar mengajar antara guru dan anak tunarungu mengaharuskan mereka saling
menukarkan makna pada saat terjadi komunikasi interpersonal secara tatap muka.
Untuk mencapai keefektifan komunikasi perlu adanya emphati, keterbukaan, rasa
positif, dan kepercayaan.
3.
Simbol
bagi anak tunarungu adalah adalah bahasa isyarat yang menjelaskan makna bahasa
atau kata agar anak tunarungu lebih mudah menangkap maksud pesan yang ditujukan
dalam berkomunikasi. Isyarat nonverbal anak tunarungu sangat membantu mereka
dalam berkomunikasi. Isyarat nonverbal tersebut terdiri dari isyarat tangan,
gerak tubuh, mimik wajah, dan kontak mata.
4.
Konstruksi
pemaknaan bagi anak tunarungu biasanya berdasarkan pada pengalaman mereka dalam
berkomunikasi sehari-hari pada proses belajar mengajar.
5.
Pada
proses pengirimin pesan antara guru dan anak tunarungu terdapat banyak
hambatan. Hambatan yang terjadi meliputi hambatan persepsi, denotatif, dan
hambatan psikologis.
5.2. Saran
Dari hasil penelitian
ini, saran yang akan diberikan oleh penulis adalah sebagai berikut :
1.
Guru
pengajar hendaknya setiap hari memberikan kata-kata dan bahasa baru kepada anak
tunarungu agar mereka bisa kaya akan
kosakata bahasa verbal, sehingga lebih mudah dalam berkomunikasi dengan
lingkungan.
2.
Anak
tunarungu seharusnya setiap hari dilatih untuk bisa berbicara dengan bahasa
lisan, agar mereka tidak selalu mengandalkan bahasa isyarat pada saat
berkomunikasi dengan lingkungan sekitar mereka.
3.
Hendaknya
lingkungan bisa lebih menerima kekurangan yang dimiliki oleh anak tunarungu,
karena pada dasarnya mereka dan manusia normal terlihat sama di mata Tuhan YME.
DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan, 2007. Analisis
Data Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT. RajawaliGrafindo Persada
Cangara, Hafied. 2009. Pengantar
Ilmu Komunikasi : Edisi Revisi. Jakarta : Rajawali Pers.
Danesi, Marcel, 2010. Pesan, Tanda, dan Makna : Buku Teks Dasar
Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta : Jalansutra.
Departemen Pendidikan Nasional, 2000. Pedoman Guru Pengajaran Bina Persepsi Bunyi dan Irama Untuk Anak
Tunarungu. Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, 2001. Kamus Sistem Isyarat Bahasa. Jakarta : Direktorat Pendidikan Luar
Biasa.
Jalaludin Rakhmat,
1994. Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Kuswarno, Engkus. 2008. Etnografi
Komunikasi : Suatu Pengantar dan Contoh
Penelitiannya. Bandung : Widya
Padjadjaran.
Littlejohn, 1999. Theories
of Human Communication, Belmont, California: Wadsworth Publishing
Company.
Moleong, Lexy.J. 2001. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy.
2005. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar,
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ryadi
Soeprapto,. 2000. Interaksionisme Simbolik, Perspektiof Sosiologi Modern.
Malang: Averroes Press dan Pustaka
Pelajar.
Sardiman, 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.
Soeprato, Riyadi, 2000.
Interaksionisme Simbolik, Perspektiof Sosiologi Modern. Malang: Averroes Press
dan Pustaka Pelajar.
Sugiyono.
2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung.
Alfabeta.
Tubbs, Stewart L. Sylvia Moss. Human Commnunication. Edisi ke-7.
New York : McGraw-Hill, 1994, hlm.7.
Sumber Lain
http://massofa.wordpress.com/2008/07/13/metode-ceramah-dalam-pembelajaran/, diunggah pada tanggal 5 Juni 2011 pukul 01.46 WIB
http://martiningsih.blogspot.com/2007/12/macam-macam-metode-pembelajaran.html. diunggah pada tanggal 6 Juni 201, Pukul 14.21 WIB